Pelaksanaan Pengecoran Beton dengan sistim SITE MIX

Pengecoran dengan sistim site mix adalah pelaksanaan pengecoran dimana proses pencampuran dan pengadukan beton dilakukan di lapangan / di lokasi kerja.  Umumnya pelaksanaan ini dilaksanakan oleh pertimbangan :

  1. Tidak ada nya  beton ready mix di dekat lokasi .
  2. Akses jalan masuk yang tidak memungkinkan masuk kelokasi.
  3. Biaya yang terlampau mahal bila mendatangkan dari luar  kota.
  4. Pertimbangan biaya yang lebih murah jika dibuat di lokasi.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk beton yang menggunakan site mix  adalah saat pencampuran dan pengadukan sering tidak merata baik dari volume campuran maupun proses pengadukan yang tidak bagus, apalagi dilakukan secara manual. Jika menggunakan mesin molen beton, mungkin pencampuran akan didapatkan adukan yang lebih baik, tapi kadang  kesalahan penuangan material kedalam molen baik air ataupun material lainnya bisa   menjadikan campuran tidak bagus.

Untuk mendapatkan hasil maksimal di lapangan , pemilik bangunan, pelaksana dan pengawas (bila pemilik kurang mengerti teknis bisa menunjuk pengawas)  perlu memperhatikan standar pelaksanaan pengecoran beton   mulai pemilihan material, pencampuran, pengadukan dan penuangan berjalan dengan baik.

Berikut langkah langkah  pengecoran di lapangan dengan menggunakan beton site mix :

  1. Pengawas dan pelaksana harus memastikan  sudah membuat Mix Design jauh hari sebelum pekerjaan dimulai . Sample material yang diambil adalah material yang akan dipakai untuk pengecoran. Pembuatan Mix Design   lebih cepat dilakukan untuk mengantisipasi jika material yang akan digunakan tidak layak secara kualitas, sehingga dapat dicari material dari tempat lain. Tidak semua material alam di suatu daerah layak dipergunakan sesuai kualitas material yang disyaratkan.
  2. Lokasi pengambilan material akan mempengaruhi schedule pelaksanaan pekerjaan. Terkadang pelaksanaan pengecoran bisa tertunda karena stock material tidak ada, harga terlalu tinggi atau jarak transportasi yang cukup jauh. Untuk itu pengawas harus mendiskusikannya lebih awal dengan pihak pelaksana
  3. Pengawas harus memeriksa spesifikasi dan kualitas material yang masuk ke lokasi, antara lain : Semen  ( dipastikan menggunakan Portland Semen Type1 ), Pasir Cor  (ukuran dan gradasi  butir standar, pasir bersih dari kandungan lumpur dan bahan organik), Split/ Koral  ( batu pecah ukuran ½ – 2/3, bukan batu bulat, gradasi butir standar, bersih dari lumpur dan bahan organik).
  4. Pengawas dan Pelaksana  harus memeriksa jumlah material yang masuk disesuaikan dengan Volume Beton yang akan dikerjakan. Kekurangan material sering akan mempengaruhi kelancaran pelaksanaan pengecoran.
  5. Pengawas  harus mengingatkan pelaksana jangan sampai menambah/mengurangi campuran beton sehingga mempengaruhi kekuatan beton yang direncanakan. Setiap pengawas harus dapat mengestimasi volume beton, volume semen, pasir dan kerikil untuk beton yang dikerjakan.
  6. Jika material semen masuk jauh hari sebelum pelaksanaan pengecoran maka penyimpanan material semen diusahakan terhindar dari hujan. (Disimpan diruang tertutup).
  7. Pengawas dan pelaksana  harus memeriksa ketersediaan air untuk pengecoran. Pengawas menegaskan ke pelaksana bahwa air yang dipakai harus bersih dan bebas dari lumpur dan minyak. Jika tidak ada persedian air dilokasi tersebut maka pelaksana  harus membuat sumur bor atau melakukan pembelian dari luar. 
  8. Pelaksana  harus menyiapkan bak ukur (Dolak), dibuat sesuai dengan ukuran berdasarkan perhitungan Mix Design. Pengawas  harus memastikan ukuran dan jumlah bak ukur sesuai. Bak ukur ini akan dipergunakan sebagai takaran pada proses pencampuran material beton.  
  9. Pelaksana  harus mengatur penempatan material (Semen, pasir dan kerikil) dan juga penempatan Mesin Molen sehingga memudahkan mobilisasi material campuran beton saat pengecoran.
  10. Pengawas dan Pelaksana memastikan  kondisi peralatan dalam keadaan baik dan layak pakai, seperti : mesin molen, ember cor, kereta sorong, concrete vibrator, mesin pompa, alat Slump Test, cetakan Benda Uji. Kondisi mesin molen akan mempengaruhi kecepatan pelaksanaan pengecoran. Pelaksana harus memastikan  mesin molen berfungsi dengan baik untuk mendapatkan kualitas beton yang baik dan waktu pengecoran yang tidak terlalu lama.
  11. Jika volume beton yang akan dikerjakan cukup besar maka pengawas perlu melakukan koordinasi dengan  pelaksana  untuk pengadaan mesin molen lebih dari 1 buah.
  12. Pengawas mengingatkan  pihak pelaksana untuk mempersiapkan jumlah pekerja sebaik mungkin,  diatur menurut fungsionalnya , antara lain : Tenaga pekerja untuk mobilisasi material, Tenaga pekerja untuk  pengisian material pasir, Tenaga pekerja untuk pengisian material kerikil ,Tenaga pekerja untuk pengisian semen, Operator mesin molen, Tenaga pekerja untuk mobilisasi distribusi  beton, Tukang untuk pengatur penempatan campuran beton  , Operator vibrator dan pompa air (jika diperlukan) dan Tenaga bantu (cadangan) lainnya.
  13. Jika pekerjaan harus menggunakan penuangan dengan sistem  penalangan, maka   pelaksana harus mempersiapkan sebelum pekerjaan pengecoran dimulai. Talang yang baik adalah talang yang dapat mengalirkan campuran beton dengan lancar, salah satunya dengan dilapisi seng. Harus dipastikan penempatan talang beton tidak melebihi jarak jatuh maksimum sebesar 60 cm.
  14.  Sebelum pengecoran dimualai, pengawas dan pelaksana harus memeriksa ukuran besi dan sistim penulangan yang akan dikerjakan sudah sesuai dengan gambar kerja . Semua area yang akan di cor harus bersih dari kotoran, minyak dan genangan air. Khusus untuk pekerjaan pondasi dimana  kondisi galian pondasi penuh dengan air maka dilakukan pemompaan. Sebaiknya pengecoran juga jangan dilaksanakan saat hujan.
  15. Ketika pengadukan beton sudah dimulai, pengawas dan pelaksana memerintahkan dan mengingatkan secara tegas ke pekerja komposisi campuran material yang harus dituangkan ke molen beton. Harus ditegaskan bahwa tidak boleh mengurangi volume komposisi material apalagi mengurangi volume semen.
  16. Setelah pengadukan pertama selesai lakukan pemeriksaan slump trest. Dari nilai pemeriksaan slump test akan diketahui komposisi air optimal untuk campuran tersebut. Nilai Slump test yang disyaratkan adalah 8 – 12 cm. Jika nilai slump test dibawah 8 cm, berarti adukan terlampau kering maka air harus ditambah. Jika nilai slump test diatas 12 berarti adukan terlampau encer, maka jumlah air harus dikurangi.
  17. Lakukan pengujian slump test saat pengadukan kedua, jika sudah memenuhi syarat maka dijadikan standar jumlah air dalam adukan. Jika belum dilakukan lagi pemeriksaan di pengadukan ke tiga. Selanjutnya pengambilan nilai slump test dapat dilakukan dalam beberapa tahap atau diacak jika dianggap perlu bilamana secara visual campuran beton dianggap kurang layak.
  18. Pengawas berhak  memerintahkan pelaksana untuk membuat Benda Uji Kubus/Silinder  untuk uji kekuatan tekan beton. Pengambilan campuran beton  Benda Uji  diambil  dari  adukan secara acak dari beberapa pengadukan. 
  19. Kadangkala untuk mempercepat pengadukan,  pekerja sering menambahkan air. Hal ini harus secara tegas dilarang oleh pengawas.
  20. Pengawas harus memerintahkan dan mengawasi pemakaian concrete vibrator. Setiap penuangan campuran beton harus dilakukan pemadatan menggunakan concrete vibrator sesuai standar pemakaiannya.
  21. Jika pengecoran dilakukan secara bertahap oleh volume yang cukup besar , misalnya pengecoran plat lantai maka penghentian pengecoran diatur pada posisi yang diisyaratkan. Untuk penyambungan pengecoran selanjutnya terlebih dahulu harus dituangkan lem beton (Cold Joint). Pemakaian cold joint harus mendapatkan persetujuan pengawas dimana sebelum pekerjaan dimulai pelaksana harus memberitahukan jenis cold joint yang akan dipakai.
  22. Pengawas harus memeriksa pelaksanaan pengecoran berjalan baik dan pastikan semua bagian terisi oleh beton.  Khusu elevasi ketinggian batas atas pengecoran di angkur harus diperiksa jangan sampai melebihi batas pengecoran. Karena jika lebih harus dilakukan pembobokan.
  23. Setelah pengecoran selesai, semua perkakas dan peralatan harus dibersihkan dan dicuci supaya tidak terjadi pengikatan beton terhadap peralatan dan perkakas sehingga tidak bisa terpakai lagi.

Semoga bermanfaat !!!

  1. #1 by novita on June 16, 2011 - 1:23 am

    waa..trims atas info lengkapnya..sangat membantu untuk dijadikan pedoman di lapangan untuk fresh graduate sprti saya..

  2. #2 by Dedy on November 22, 2012 - 1:18 pm

    Tks atas informasinya, hal akan menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: